Saya mau bikin cerita nih…

Siapa tahu bisa terkenal, kayak Raditya Dika.

Judulnya Aku Takut Anjing. Terinspirasi dari lagu YTH yang berjudul Aku Takut Anjing

Note:
Bagi anda yang takut anjing, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud menyerang. Lagipula… saya juga takut anjing. Oh ya. Ada tokoh di cerita ini yang bernama Vera. Sebelumnya saya beri nama Vierra. Tapi takut kayak kasus Bu Prita jadinya saya ganti aja deh namanya jadi Vera

————————-

Kepingan 1

Doggyphobia

“Anjiiiiiiiiiing!”

Arya berteriak ketakutan begitu melihat anjing jinak berkulit cokelat keputih-putihan di rumah calon istrinya: Dyna. Teriakan tersebut mencapai 100 desiBel[1]. Terdengar hingga radius 100 meter. Telinga siapapun dan telinga manapun yang mendengarnya pasti akan berdengung-dengung, seolah gendang telinganya ingin pecah (siapakah yang ingin gendang telinganya pecah?), lalu bertanya-tanya sendiri: Apakah telingaku bisa mendengar?

Itulah kesan pertama dalam pertunangan Arya dan Dyna. Berkali-kali orang tua Arya terus mengingatkan agar tidak takut dan berteriak ketika melihat seekor anjing (bukan hanya ekornya). Dulu sewaktu aku masih kecil… eh, maksudnya sewaktu Arya dan Dyna (kata Arya dan Dyna bisa diganti dengan kata: mereka) masih berpacaran, bukan berupacara, Arya biasanya memanjat dinding di belakang rumah Dyna. Tingginya tak kurang dari lima meter. Tak mudah memanjat dinding tersebut karena dinding tersebut berlumut-lumut dan licin. Namun demi Dyna, semuanya akan dilakukan oleh Arya.

Puncak dinding tersebut juga cukup berbahaya. Karena tepat di atas dinding tersebut, dipasang kawat berbentuk spiral yang tajam dan berduri—tujuannya supaya tidak ada maling yang memasuki rumahnya. Mengenainya anda bisa berdarah dan terluka. Tetapi, seperti tadi kubilang, Arya rela terluka hanya untuk menemui Dyna. Ia rela berjalan jauh selama tiga jam hanya untuk menemui Dyna tiga puluh menit. Dan apakah benar, satu jam sama dengan enam puluh menit? Bukan tiga puluh menit?

Tetapi apabila selamat sampai di atas melewati lumut-lumut yang bisa menggelincirkan anda berkali-kali dan selamat dari kawat spiral nan tajam dan berduri, jangan kira anda akan selamat jatuh ke bawah. Tadi sudah kubilang bahwa tinggi dinding tersebut tak kurang dari lima meter. Dan ada juga jebakan, sebuah inovasi terbaru dan terampuh dari ayah Dyna, mawar berduri di balik rerumputan dan semak-semak (dalam bahasa inggris: thorny rose behind the grasses and bushes). Maka tidak ada orang yang menyangka dibalik rerumputan dan semak-semak yang lembut terdapat mawar yang sangat berduri seperti durian. Mawar tersebut ditanam dalam pot dan disiram setiap hari. Jumlahnya ada sembilan belas. Maka apabila ada pencuri atau maling yang memanjat dinding tersebut kemudian jatuh ke bawah (dimana-mana kalau jatuh itu ke bawah) maka ia langsung berteriak kesakitan.

Dan ternyata trik tersebut berhasil. Pada suatu malam (seperti dongeng), ketika orang-orang sedang terlelap dan bermimpi indah, pada malam yang pekat, petang tiga puluh[2], seorang pencuri mengendap-endap ke rumah Dyna tanpa suara lalu memanjat dinding rumah Dyna—juga tanpa suara. Dan pencuri tersebut tidak terjatuh oleh lumut-lumut karena mungkin ia telah mahir dan terlatih untuk memanjat dinding yang licin, dilumuri oli bahkan tidak terjatuh.

Pencuri itu juga tidak kesakitan menghadapi kawat-kawat spiral berduri tersebut, bahkan bisa dikatakan kebal, tidak terluka sedikitpun dan bahkan tanpa bersuara. Tetapi ketika ia menuruni dinding tersebut….

“Aouuuuwwwwwwwwwwww!”

Pencuri itu mungkin sudah terlatih untuk menuruni tembok-tembok dan dinding-dinding tinggi, tetapi ia tidak menduga bahwa di balik rerumputan dan semak-semak tersebut terdapat mawar berduri yang sangat tajam. Ia pun kontan berteriak dan lupa bahwa ia sedang menjalankan misinya.

Dan teriakan itu memancing warga tanpa kail dan umpan apapun. Warga langsung bergegas ke rumah Dyna. Lalu langsung tanpa pikir panjang apalagi lebar, para warga kontan memukuli pencuri itu tanpa berpikir dua kali apalagi tiga atau empat kali. Lalu datanglah yang berwajib ke lokasi. Polisi tersebut menyuruh warga agar tidak main hakim sendiri.

“Para warga, sebaiknya kita tidak main hakim sendiri.” Ujarnya.

Tetapi warga memprotes dan berkilau, maksudnya berkilah. “Kita tidak main hakim sendiri, kita main hakimnya bareng-bareng. Iya kan para warga?” Dan warga setuju. “Ya, kita main hakimnya bareng-bareng. Gak cuma sendiri, lihat! Ada berpuluh-puluh orang.”

“Maksudnya main hakim sendiri itu main pukul, main kroyok. Lebih baik selesaikan di kantor polisi. Lebih adil, kan?”

Dan warga menjawab: “Ya! Ayo kita Giring Nidji, eh, maksudnya giring pencurinya ke penjara”

“Ya sudah. Buruan bubar! Sudah jam satu malam nih! Ayo bubar! Bubar!”

Dan warga pun bubar. Kembali ke habitatnya masing-masing.

Mari kita lanjutkan tentang pertunangan Arya dan Dyna. Arya ketakutan setengah tambah seperempat mati, jadinya tiga perempat mati deh. Dan Dyna berujar:

“Jangan takut, ini anjing jinak.”

“Aaaaaaaa….”

“Tuh kan Arya, anjing itu jinak….”

“Aaaaaaaa… kamu jangan ngomong anjing… aaaaaaaaaaa… aku takut.”

“Aneh. Kan kamu sendiri yang ngomong.” Cibir Dyna

“Sudahlah. Silahkan masuk. Ayo, jangan malu-malu. Masuk saja.” Ayah Dyna mempersilakan ayah dan ibu Arya masuk.

Interior didalam rumah itu sangat bagus. Seperti sebuah istana. Ada guci berwarna cokelat (bukan Cokelat yang menyanyikan lagu Bendera itu), pot berwarna biru, lemari dari kayu jati yang populasinya kian hari kian sedikit, lukisan dinosaurus yang apabila dipandang pada jarak tertentu seolah-olah timbul, dan aquarium berisi empat ekor lohan[3] (bukan hanya ekornya lohan).

“Silahkan duduk.” Ayah Dyna mempersilahkan Arya dan orangtuanya duduk di sofa empuk berwarna cokelat kekuning-kuningan.

“Jadi bagaimana keputusannya?” Ayah Arya bertanya kepada orang tua Dyna.

“Hmm….” Ayah Dyna berpikir dengan menggunakan otak bukan dengkul apalagi jempol kaki.

“Tunggu sebentar.” Ayah Dyna bergegas ke dapur bersama ibunya.

“Bagaimana, Ma?” Ayah Dyna bertanya kepada istrinya

“Hmm… tunggu dulu, tunggu dulu. Aku pikirkan keputusannya.”

“Jadi apa, Ma?”

“Hmm… baiklah, kita restui saja anak kita menikah dengan Arya. Dia itu kan, penulis. Pasti pendidikannya tinggi dan pintar. Dan baru-baru ini, katanya, bukunya sudah best seller.”

“Tapi, kan Arya takut…” ia berusaha memelankan suaranya supaya Arya tidak mendengarnya. “…Anjing.”

“Mungkin dia bisa membiasakan dirinya dengan anjing satu atau dua bulan.”

“Ya sudah, kita restui saja. Moga-moga pernikahannya langgeng, tak terpisahkan oleh apapun kecuali oleh maut.”

Setelah lama menunggu—tak lama sih, cuma 30 menit—akhirnya orang tua Dyna datang juga. Orang tua Arya cemas apabila lamarannya ditolak sekaligus penuh harap agar lamarannya diterima.

Akhirnya, momen yang ditunggu-tunggu tersebut datang juga.

“Kami sudah membicarakannya dan kami setuju anak anda menikah dengan anak saya.”

“Terima kasih, terima kasih, terima kasih.”

Dan setelah itu mereka keluar dari rumah itu. Tetapi ketika mereka keluar….

“Anjiiiiiiiiiiing!”

Dan orang tua Arya, Dyna dan orang tua Dyna tertawa tersedu-sedu. Eh, maksudnya terbahak-bahak.

—||—

Ya, itulah cerita lucu dari Arya dan Dyna dalam pertunangan. Arya memang mempunyai penyakit yang, kusebut sendiri: DOGGYPHOBIA. Atau sekali lagi: D-O-G-G-Y-P-H-O-B-I-A. Atau sekali lagi dengan sedikit gaung[4]: DOGGYPHOBIA (bia… bia… bia…). Atau sekali lagi dengan sedikit gema[5]: DOGGYPHOBIA (doggyphobia… doggyphobia…). Atau sekali lagi… kapan selesainya sich?

Penyakit Doggyphobia ini adalah penyakit takut anjing yang sudah sangat akut, seperti Arya. Penyebab Arya takut anjing, nanti saja, pasti kuceritakan.

Mungkin banyak orang—atau mungkin sebagian besar—di dunia yang takut dengan anjing. Tapi tidak sebegitu takutnya seperti Arya yang apabila mendengar suara dengarkanlah aku…, maksudnya suara anjing, ketakutan tiga perempat mati. Bahkan, hanya melihat anjing di acara-acara tv sekalipun, Arya bisa ketakutan tiga perempat mati juga. Bahkan hanya mendengar kata ‘anjing’ saja takutnya tiga perempat mati.

Sebenarnya pernah, pada suatu hari, Dyna melubangi dinding di belakang rumahnya yang tingginya lebih dari lima meter tersebut dengan palu (bukan ibukota Sulawesi Tengah). Tetapi dia dimarahi orang tuanya dan disekap di kamar mandi selama 3 jam, atau 180 menit, atau 10800 detik. Dan lubang itu ditambal lagi oleh ayahnya. Oleh karena itu, Arya lebih suka memanjat dinding tersebut daripada lewat depan rumahnya karena anjingnya tetap terjaga walaupun di malam pekat petang tiga puluh sekalipun. Karena, sekali lagi kawan, ia rela terluka demi menemui Dyna beberapa menit bahkan beberapa detik saja.


[1] Satuan Kekuatan Suara.

[2] Malam yang paling pekat.

[3] Sejenis ikan yang biasa dipakai sebagai penghias ruangan.

[4] Suara yang terdengar sebelum bunyi asli selesai diucapkan. Terjadi apabila suara memantul di permukaan yang cukup jauh letaknya dari sumber suara.

[5] Suara yang terdengar setelah bunyi asli selesai diucapkan. Terjadi apabila suara memantul di permukaan yang sangat jauh letaknya dari sumber suara.

————————-

Gimana? Bagus? Atau ancur?

Kepingan berikutnya kapan-kapan, kalau sempat.

Note:
Kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan.