Ini dia lanjutan dari kepingan 1.

————————-

Kepingan 2

Hijau Daun

Arya adalah manusia biasa, yang punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya ialah: dia adalah manusia yang kreatif, pandai berimprovisasi pada situasi apapun. Dia juga pintar membuat puisi dan pantun dadakan, bahkan berimproptu[6].

Pernah suatu hari Arya disuruh oleh Pak RW untuk membuat teks pidato kemerdekaan untuk acara memperingati HUT RI ke-62 dalam beberapa jam saja. Tentu saja itu pekerjaan yang sangat berat karena umumnya pidato untuk acara-acara atau seminar-seminar biasanya dibuat selama 1 sampai 5 hari sebelum acara pelaksanaan, atau bahkan mungkin, sekali lagi mungkin, ada yang berminggu-minggu telah disiapkan. Waktu yang diberikan hanya 4 jam dan temanya banyak. Deadline sudah habis tetapi pidatonya belum juga selesai. Arya pun pasrah dan naik ke atas panggung dengan grogi.

Arya mengalami demam panggung tingkat tinggi (bukan demam berdarah). Dan ia mencoba mengarang pidato sendiri:

“Tes, tes, tes….”

“Assalamualaikum Warohmatullahiwabarokatu.”

“Selamat datang di acara memperingati HUT RI yang ke-62. Untuk itu saya Arya mewakili RW 05 untuk menyampaikan sambitan… eh, rambutan… eh, sambutan… hehehe…, maksud saya sambutan, izinkanlah saya untuk menyampaikan sambutan kepada Ketua RW 05 Pak Suparman. Tepuk tangan semua.”

Dan semua pengunjung yang hadir bertepuk tangan.

“Bagi yang lupa mematikan komprominya… maksud saya kompornya barangkali, barang dari kali, dan belum mengunci kendaraannya, masih ada waktu untuk kembali. Dan warga RW 05 yang belum datang ke acara ini diharapkan datang karena masih ada waktu sebelum acara dimulai.”

“Dan ini saatnya kita merenung atas jasa pahlawan yang telah memperjuangkan segenap jiwaraganya demi Indonesia merdeka. Mereka rela mengorbankan nyawanya demi memperjuangkan Indonesia merdeka. Mereka adalah contoh yang patut diteladani. Bayangkan pada masa penjajahan Belanda, ada yang namanya kerja rodi. Kerja rodi adalah kerja secara paksa tanpa mendapat upah sepeserpun. Banyak orang mati karena kerja rodi tersebut. Atau ada lagi kerja romusha[7] namanya. Kerja romusha ini lebih parah daripada kerja rodi. Bayangkan ribuan orang mati karena kerja rodi dan romusha tersebut. Oleh karena itu kita harus bersyukur dan mengisi pembangunan negeri ini dengan berkarya yang berguna bagi bangsa dan untuk anak-anak, belajar dengan rajin supaya menjadi anak yang berguna bagi Indonesia Raya! Merdeka!”

“Lalu susunan acaranya adalah: Tari Jawa dari RT 01, lalu tari piring oleh RW 02, lalu pagelaran band dari RT 03, selanjutnya dilanjutkan oleh paduan suara RT 04, dan diselingi oleh pembagian doorprize[8] tahap pertama, dan dilanjutkan oleh tari Tak Ada Logika[9] dari RT 05 dan dilanjutkan oleh atraksi cheerleader[10] dari RT 06 lalu atraksi cheerleader lagi dari RT 07 dan tari payung dari RT 08, dan paduan suara lagi dari RT 09 dan yang ditunggu-tunggu adalah pembagian doorprize tahap akhir.”

”Dan akhir kata, Assalamualaikum Warrohmatullahiwabarokatu. Kembali kepada Pak Suparman.”

Dan Pak Suparman melanjutkan:

“Hebat! Hebat! Walaupun tanpa naskah dia bisa berpidato dengan baik walaupun ada sedikit kesalahan. Apa tadi itu? Sambitan, rambutan, membuatku ingin tertawa keras. Hahaha….”

Pak Suparman tidak bisa menahan tawanya. Dan keluarlah tawanya yang sangat khas itu.

“Dan itu tadi, tentang apa tadi? Rodi dan romushanya. Benar-benar sebuah pidato yang bagus. Merdeka!”

“Dan kita langsung saksikan saja para hadirin, Tari Jawa dari RT 01.”

Dan dia berhasil membuat pidato dadakan. Sangat mengesankan. Bahkan dia juga pernah, sekali menjadi khatib[11] pada sebuah sholat Jum’at. Aku yakin, haqqul yakin, bahwa apabila ia bermain di acara Akhirnya Datang Juga, maka ia pasti menang.

Kekurangannya ialah, seperti pernah kusebutkan di kepingan 1: Arya sangat takut anjing. Ia menderita penyakit Doggyphobia seperti pernah kuceritakan pada kepingan 1. Perlu bab tersendiri untuk memberitahu sebab musabab takut anjing Arya.

—||—

Sore ini Arya duduk di kursi malas dan mendengarkan tembang dari Hijau Daun: Suara (Ku Berharap) dari radionya.

Suara dengarkanlah aku…

Apa kabarnya pujaan hatiku…

Aku disini menunggunya…

Masih berharap didalam hatinya…

Suara dengarkanlah aku…

Apakah aku selalu di hatinya…

Aku disini menunggunya…

Masih berharap didalam hatinya…

Pikirannya tenang setenang Danau Kasinau Indrau… hehehe… maksudnya setenang danau. Setelah mendengarkan lagu dari Hijau Daun tersebut Arya bergegas pergi ke rumah Dyna menaiki motornya dengan kecepatan cukup tinggi: 160 km/4 jam (40 km/jam) dan lantas langsung pergi ke toko buku—juga dengan kecepatan cukup tinggi—untuk membeli buku baru terbit yang dia tulis sendiri yang berjudul: Hari Yang Cerah untuk Jiwa Yang Sepi.

Judul buku yang sama persis dengan judul lagu Peterpan tersebut dibelinya dua buah—untuk Arya satu dan untuk Dyna satu. Ketika mereka keluar tiba-tiba beberapa orang menyambar Arya (pastinya bukan kilat).

“Minta tanda tangannya dong.” Pinta salah satu fans[12] Arya. Dan Arya pun langsung menandatangani kertas tersebut. Dan banyak juga fans-fans lain yang meminta tandakaki, maksudnya tandatangan dari Arya. Kebanyakan sih perempuan. Ada juga yang laki-laki tetapi tidak ada yang banci.

“Minta dong, tandatangannya.”

“Arya, minta tandatangan dong.”

Sampai-sampai Dyna pun berkomentar:

“Enak ya, punya fans banyak. Disukai para wanita dari kalangan manapun.”

Tapi Arya membantah.

“Siapa bilang enak? Nggak enak tahu! Ribet! Selalu diminta tandatangan.”

“Tapi kan kamu jadi terkenal.”

“Oh, iya, ya.”

“Iya, dong.”

Dan mereka berlalu dari kerumunan fans berat Arya.

—||—

Arya adalah manusia biasa. Seperti di awal bab ini. Dia adalah orang-orang kebanyakan yang biasa-biasa saja, mempunyai mata, hati, telinga, hidung, tangan, kaki, mulut, otak, jantung, paru-paru, ginjal, lambung, usus, gigi, lidah, tulang, kerongkongan, tenggorokan, dan organ-organ tubuh lainnya yang dimiliki manusia normal.

Namun akan banyak kejadian seru, menegangkan, menyenangkan, aneh, dan lucu yang akan menimpa Arya.


[6] Teknik berpidato tanpa naskah. Berpidato dadakan.

[7] Kerja paksa pada zaman penjajahan Jepang.

[8] Pembagian hadiah secara undian.

[9] Lagu dari Agnes Monica.

[10] Pemandu sorak.

[11] Yang membacakan khutbah. Penceramah.

[12] Penggemar.

————————-

Kepingan berikutnya akan dipublikasikan apabila sempat.

Note:
Kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan belaka.