Lanjutan dari Kepingan 2

————————-

Kepingan 3

Sebab Musabab Takut Anjing

Setiap manusia pada umumnya pernah mengalami trauma yang mendalam. Begitu juga dengan Arya. Pernah kuberitahu pada bab 1 bahwa Arya takut dengan anjing. Apakah anda penasaran apa yang membuat Arya takut anjing? Sebenarnya aku takut menceritakannya tetapi karena kalian penasaran dan selalu ingin tahu, baiklah.

Ceritanya begini. Dulu, saat Arya masih kelas 4 SD, saat pulang sekolah, Arya melewati lapangan. Waktu itu Arya berjalan kaki bersama kedua temannya. Lapangan itu lapangan berpasir merah. Karena banyak pasir berwarna merah maka lapangan tersebut dinamai Lapangan Tanah Merah. Di samping lapangan tersebut ada hutan yang penuh dengan anjing hutan.

Ketika melewati lapangan itu, tiba-tiba ada seekor anjing hutan (bukan hanya ekornya) yang keluar dari hutan tersebut. Anjing tersebut mengejar Arya dan teman-temannya. Seorang temannya mengambil langkah seribu[13] karena ketakutan, seorang temannya lagi tetap bersama Arya. Mereka lari seperti orang dikejar hantu. Tanpa basa-basi mereka masuk ke hutan tempat anjing-anjing tersebut tinggal dan berkembangbiak.

Mereka berlari sekencang-kencangnya. Karena kelelahan, Mereka bersembunyi di balik pohon besar. Ternyata anjing tersebut mengetahui keberadaan mereka. Mereka kembali berlari. Dan ternyata anjing tersebut membawa teman-temannya untuk mengejar mereka.

Karena bingung harus bagaimana, Arya memilih memanjat pohon. Sementara temannya lebih memilih untuk terus berlari, berlari, dan berlari. Arya mencoba mengusir anjing-anjing tersebut. Namun, anjing-anjing tersebut menyeruduk pohon yang dinaiki Arya seperti banteng menyeruduk dinding.

Karena pohon itu tidak cukup kuat maka makin lama makin rapuh dan akhirnya pohon yang dinaiki Arya pun tumbang. Dan Arya pingsan dengan darah yang berlumuran di tubuhnya.

—||—

Tak lama kemudian, seorang pencari kayu menemukan Arya tergeletak di samping pohon yang dinaiki Arya. Dia membawa Arya ke rumahnya. Tetapi di tengah jalan dia dikerumuni orang-orang yang kaget karena Arya berlumuran darah. Lalu datang kedua orangtua Arya. Mereka kaget dan langsung menelepon ambulans dan membawanya ke rumah sakit.

—||—

Di rumah sakit keluarga Arya bersedih. Ibu Arya meminta tolong kepada dokter.

“Pak, tolong usahakan apa saja yang Bapak bisa.”

“Saya akan berusaha untuk menyelamatkan nyawa anak Ibu. Nah, kalau boleh bertanya, siapa nama anak Ibu?”

“Arya Prima Pratama.”

“Anak pertama, ya?”

“Ya. Kok Bapak bisa tahu?”

“Namanya Pratama.”

Segala usaha telah dilakukan oleh dokter. Bahkan dengan defibrilator[14]. Tetapi Arya tetap tidak terbangun. Apabila dicek melalui alat pendeteksi detak jantung, maka garis di monitornya sudah hampir seperti garis lurus. Dan dokter pun sudah mulai pesimis.

“Saya sudah usahakan apa yang saya bisa. Namun jika ini adalah kehendak Tuhan maka mungkin sudah ditakdirkan begini. Apapun yang terjadi, ikhlaskan saja ya Bu.”

“Iya, saya ikhlasin apapun yang terjadi.” Ibu Arya menahan tangis yang hampir keluar.

Arya hampir meninggal. Tetapi karena Tuhan Maha Berkehendak, Tuhan menghendaki Arya tidak meninggal karena memang belum waktunya. Dan alat pendeteksi detak jantung itu kini tidak lagi menunjukkan garis yang hampir lurus. Dan Arya membuka matanya.

“Syukurlah. Alhamdulillah Ya Allah!” Ibu meluapkan rasa syukurnya dan bersujud sebagai tanda syukurnya pada Yang Maha Kuasa. Dan yang lainnya mengucapkan syukur.

“Terima kasih Pak Dokter.” Ujar Ibu

“Ah, tak usah berterima kasih padaku. Berterimakasihlah kepada Tuhan. Dia yang menyembuhkan anak Ibu.” Ujar Dokter.

Dan kini keluarga Arya bahagia karena anaknya telah hidup kembali. Sedangkan teman Arya yang menemani Arya masuk ke dalam hutan kini nasibnya masih misteri. Konon kabarnya ia tewas didalam hutan tersebut dan konon kabarnya, setiap malam di hutan tempat Arya dikejar anjing, seorang anak selalu menanyakan dimana rumahnya kepada orang-orang yang lewat di hutan tersebut. Tetapi menurut pengamatan terbaru, anak tersebut tidak tewas tetapi mengalami amnesia sehingga tidak tahu dimana rumahnya sendiri dan tersesat selama bertahun-tahun


[13] Lari secepat-cepatnya.

[14] Alat pemacu detak jantung.

————————-

Lanjutannya kapan-kapan, kalau sempat

Note:
Cerita ini fiktif belaka. Kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan dan tidak disengaja.