Kiprah Duo Manchester di empat laga pramusim awal mereka tidak kterlalau bagus. Manchester City mengalami 2 kali menang dan 2 kali kalah dalam laga pramusim. Manchester United lebih buruk lagi: sekali menang, sekali seri, dan dua kali kalah. Tetapi, ingat ujar-ujar yang pernah diucapkan pak RW Idrus Madani pada sinetron sahur PPT ini: Pemenang bukanlah yang lebih dulu mulai, tetapi yang lebih dahulu mencapai garis finis.

Pramusim mungkin penting untuk memulihkan tenaga setelah berlibur, dan melihat seberapa jauh perkembangan skuad. Tetapi ingat, dalam laga pramusim pemain bermain engan tekanan yang tidak begitu besar. Biasanya yang dimainkan pada pramusim adalah pemain muda dan pemain baru. Jadi, pramusim adalah ajang untuk beradaptasi dengan komando sang pelatih, apalagi pada kasus diatas duo Manchester dilatih oleh pelatih baru.

Lagipula awal yang baik belum tentu berakhir indah, dan awal yang buruk belum tentu berakhir buruk. Contohnya pada musim lalu, partai pertama Manchester United adalah kekalahan melawan Everton. Tetapi mereka mampu bangkit di laga berikutnya dan bahkan menjadi juara. Atau Kiprah juara Liga Champions Bayern Munchen diawali dengan kekalahan 3-1 dari tim medioker Bate Borisov. Atau ada yang lebih fenomenal, yaitu keberhasilan Ajax menjuarai Eredivisie pada 2011. Pada awal musim mereka terlunta-lunta, sementara PSV dan Twente yang bergantian mengisi posisi 1 adem ayem saja, hingga Ajax berhasil merangsek ke posisi kedua pada pekan ke-31 (dari 34 pekan), dan pada pekan terakhir mengalahkan Twente selaku pemegang pucuk klasemen (dimana sebenarnya Twente hanya butuh hasil imbang untuk juara)

Start bagus memang penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah konsistensi. Jika anda jatuh di awal, itu bagus jika anda bisa bangkit, daripada anda terjatuh di akhir.😀