Pemilihan umum 2014Mulai dari masa kampanye hingga pemilihan

Tahun 2014 ini dikenal sebagai tahun pesta demokrasi, meski saya sebenarnya lebih memikirkan pesta yang satu lagi (pesta sepak bola). Diselenggarakannya pemilu atau pemilihan umum adalah suatu bentuk nyata perwujudan demokrasi di negara kita tercinta.

Dalam penyelenggaraannya, Pemilu ataupun pilkada seringkali menimbulkan masalah-masalah tertentu. Berikut adalah 3 masalah yang jamak terjadi setiap diselenggarakannya pemilu.

1. Money Politics

Kegiatan ini, dalam konteks pemilu, adalah kegiatan membagi-bagikan uang atau barang kepada pemilih dengan tujuan supaya pemilih memberikan suaranya untuk si pemberi. Meskipun sedah ada teguran keras tetapi pada prakteknya terkadang masih saja terjadi yang demikian.

Solusi:
Terima uangnya, jangan pilih orangnya. Simpel kan?

Mereka yang masih berpendapat bahwa suara rakyat bisa dibeli harus berpikir ulang lagi: hati nurani tidak mungkin dibeli, dan dengan kita menerima uang tetapi tidak memilihnya, maka yang memberi pun akan bosan dan jera, jadi jika teknik ini terus diterapkan maka camkan: pada beberapa tahun kedepan money politik akan usang, karena rakyat masa mendatang sudah makin kritis dan jeli dalam memilih, tidak termakan oleh janji manis dan uang pelicin.

2. Golongan Putih aka Golput

Ini memang akan menjadi perdebatan panjang dan dengan adanya yang pro atau kontra, saya tidak akan menyuruh atau melarang anda untuk memilih ataupun golput. Itu pilihan anda. Bahkan tidak memilih adalah sebuah pilihan.

Solusi:
Jika anda ingin golput, jadilah golput aktif.

Tetaplah datang ke TPS, tetapi buat suara anda tidak sah, misalnya mencoblos semua partai sekaligus. Mengapa?

Yang jadi masalah sebenarnya bukan anggapan bahwa suara anda tidak berarti (yang secara logis kita berpikir kalau sejuta orang berpikir seperti anda akan menimbulkan jumlaha suara kosong yang signifikan) tetapi masalahnya adalah surat suara yang kosong (atau anda kosongkan) bisa jadi disalahgunakan oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab untuk kepentingan seseorang. Jadi dengan mencoblos semua partai anda telah mencegah penyalahgunaan surat suara kosong oleh oknum, sekaligus juga menyaurkan aspirasi anda untuk menjadi golput.

3. Anak-anak pada masa kampanye

Ini sebenarnya sudah jadi polemik yang lama. Inti masalahnya sebenarnya begini: anda, misalkan orang tua yang mempunyai 2 orang anak, dan ikut kampanye, tetapi tidak ada yang jaga rumah. Walhasil anak-anak anda jadi terancam (misalnya: rumah anda dirampok). Tetapi jika anda membawa serta anak-anak anda, maka akan dicatat sebagai pelanggaran kampanye.

Solusi:
Belum ditemukan.

Ini seperti makan buah simaradona eh simalakama:mrgreen: karena anak-anak itu tidak patut disalahkan karena mereka tidak tahu apa-apa tentang politik. Toh anak-anak yang datang ke acara kampanye mungkin tertarik pada goyang dangdutnya ataupun mungkin mencari orangtua mereka di tempat kampanye untuk meminta uang jajan.

Saya pernah dengar ada satu kampanye yang menyediakan tempat penitipan anak, tetapi saya tidak yakin apakah itu melanggar peraturan kampanye atau tidak ya?

Atau mungkin kita mengenalkan anak-anak pada situasi politik di Indonesia (dengan kata lain: edukasi politik), jai peraturan yang melarang anak-anak terlibat dalam kampanye dihapuskan saja? Pasti ada yang setuju ada yang tidak.

Sebenarnya bukan hanya itu saja masalah yang ada, masih banyak masalah yang lainnya, misalnya black campaign. Tetapi segala sesuatunya tidak lepas dari masalah bukan? Mari sikapi secara positif.😀